Selasa, 08 Juni 2010

Teori Arsitektur

Apabila ada wacana baru arsitek yang lebih menaruh perhatian terhadap pemikiran-pemikiran yang berada diluar jangkauan bidangnya ( master builder ) maka sebenarnya hal ini adalah fenomena baru dimana arsitek mulai ber ‘teori’.
Diawali pada abad pencerahan , arsitek yang dulunya tidak pernah angkat bicara atau diam dan bungkam ( karena teori dan ilmu pengetahuan didominasi oleh para filsuf ) mulai berubah menjadi sosok yang memperhatikan posisinya dalam asyarakat sebagai “arsitek” yang terpelajar dan intelektual.
PENGANTAR
Penjelasan – penjelasan dalam pemahaman baru ini berupa konsep-konsep yang pada dasarnya sudah merupakan dasar bagi tradisi penyusunan ‘teori’ yang makin mempengaruhi perkembangan arsitektur dan sebagai awal kesadaran dalam usaha meletakkan landasan dunia arsitektur ke dalam kelompok ilmu pengetahuan.
Tradisi ini ditandai oleh 4 (empat) alasan pokok, yaitu :
- dengan ditandainya kemunduran peran agama,
- adanya pengakuan masyarakat terhadap kedudukan arsitek secara independen,
- adanya perubahan sikap antara klien dengan arsitek sehingga tercipta dialog cultural yang kuat (sikap klien tidak memaksakan kehendak) dan
- adanya revolusi industri.
PEMAHAMAN
Teori dalam arsitektur digunakan untuk mencari apa yang sebenarnya harus dicapai dalam arsitektur dan bagaimana cara yang baik untuk merancangnya.
Teori dalam arsitektur adalah hipotesa, harapan dan dugaan-dugaan tentang apa yang terjadi bila semua unsur yang menjadikan bangunan dikumpulkan dalam suatu cara pada tempat dan waktu tertentu.
Teori dalam arsitektur cenderung tidak seteliti dan secermat teori dalam ilmu pengetahuan yang lain, dan salah satu ciri penting dari teori ilmiah yang tidak terdapat dalam arsitektur ialah pembuktian yang terperinci.
TEORI ARSITEKTUR
Pada paparan arsitektur yang lebih luas harus diperhatikan lebih lanjut berkaitan dengan kedudukan teori-teori yang sering digunakan.
Pemahaman ini menjelaskan adanya 3 (tiga) katagori teori dalam disiplin arsitektur :
- Teori Arsitektur, dalam hal ini difahami sebagai pengandaian teori-teori yang tersusun sebagai unsur-unsur yang membentuk arsitektur sebagai ilmu pengetahuan.
- Teori tentang Arsitektur, yaitu teori ini berusaha menyusun definisi dan diskripsi medan pengetahuan yang tercakup dalam sebutan “arsitektur”.
Sasarannya adalah menjelaskan tentang kedudukan arsitektur dalam taksonomi ilmu pengetahuan yang berlaku pada periode yang bersangkutan.
- Teori Perencanaan dan Perancangan Arsitektur, yaitu teori yang secara aplikatif membantu didalam proses dan pelaksanaan perancangan, misalnya teori pengolahan bentuk dan ruang.
Dalam hal ini perlu sekali dibedakan adanya perbedaan antara konsep dan metode. Konsep bisa difahami sebagai teori yang tanpa perlu dibuktikan (sebagai landasan perancangan), sedangkan kalau Metode merupakan cara untuk membuktikan dan metode sendiri memerlukan teori sebagai alat untuk mengujinya (tidak ada metode tanpa teori ).
Dalam pandangan lain, teori dalam arsitektur dapat dikaitkan dengan ‘pokok – pokok pikiran’ yang berkaitan dengan pemikiran terhadap arsitektur.
A.Theory in Architecture ( what architecture is ),
Teori arsitektur yang umumnya mengamati aspek formal, tektonik, structural, representasional dan prinsip – prinsip estetika yang melandasi gubahan arsitektur.
Teori yang tergolong dalam kelompok ini cende-rung bersifat superficial, deskriptif dan persepektif.
B.Theory of Architecture ( how best to design! )
Teori yang berusaha menjelaskan bagaimana para arsitek mengembangkan prinsip-prinsip dan meng gunakan pengetahuan, teknik dan gambar – gambar dalam proses disain dan produksi bangunan.
Issue pokok di sini bukan prinsip – prinsip umum yang memandu disain, tetapi bagaimana dan mengapa arsitek mendesain , menggunakan media serta mengapa di antara arsitek bisa terjadi keaneka keragaman historis maupun budaya.
C.Theory about Architecture ( the achievement of Architecture )
Teori yang bertujuan untuk menjelaskan makna dan pengaruh arsitek, mendudukan arsitek dalam konteks sosial – budayanya , memberikan bagai-mana arsitek bekerja sebagai produser budaya, atau memahami bagaimana arsitek digunakan dan diterima oleh masyarakat.
Dengan kata lain teori ini berusaha menjelaskan bagaimana arsitektur berfungsi , dipahami dan diproduksi secara sosial – budaya.
Pemahaman terhadap Arsitektur
meskipun setiap arsitektur adalah bangunan, tetapi tidak setiap bangunan dapat dikatakan sebagai arsitektur .
Vemon Gibbert [1988] : perbedaan antara arsitektur dengan bangunan tidaklah mudah untuk dirumuskan , barangkali lebih mudah dikenali daripada dirumuskan.
apabila pemahaman terhadap arsitektur menuntut penegasan dan pemastian tentang apa yang disebut ‘arsitektur’, maka pembedaan yang definitip dari penegasan tersebut adalah sebuah kemutlakan yang harus dikuasai.
Antara , ……..
Bangunan dan Arsitektur

membangun atau bangunan ( “building” ) ( dalam bahasa Jerman nya adalah “bauen”, “bau” ) yaitu untuk menjelaskan aktivitas atau proses mendirikan bangunan dan hasilnya adalah “bangunan”
Heidegger dalam tulisannya yang berjudul : “Building Dwelling Thinking “ bahwa “building “ berasal dari kata “ build “ yang artinya membangun, atau kata “bheu “
yang artinya ‘ada’ , ‘muncul’ atau ‘timbul’.
Heidegger juga menunjukkan adanya hubungan yang erat antara ‘membangun’, ‘menetap’ dan ‘menjadi’ dan simpulan bagian pertama dari “Building Dwelling Thinking“ sebagai berikut :
simpulan bagian pertama dari buku Building Dwelling Thinking adalah ;sebagai berikut : Apabila disimak kata ‘bauen’ , memiliki tiga hal :
- BANGUNAN ADALAH TEMPAT TINGGAL
- TEMPAT TINGGAL ADALAH CARA MAHLUK- HIDUP UNTUK BERADA DI BUMI
- BANGUNAN SEBAGAI TEMPAT TINGGAL MENG UNGKAPKAN DAN MEBERIKAN PERSEPSI BAHWA SEBUAH BANGUNAN YANG MENJAGA BENDA YANG TUMBUH DIDALAMNYA, DAN BANGUNAN YANG MENCIPTAKAN KUMPULAN BANGUNAN
TEMPAT TINGGAL
Tempat tinggal menurut Heidegger adalah : berhubungan dengan “langit” dan “bumi”, dengan “para dewa” dan “makhluk hidup” , yang disebutnya sebagai “EMPAT BAGIAN”.
Namun ‘diatas bumi‘ sama artinya dengan ‘di bawah langit‘ , keduanya juga bisa berarti ‘Bisa di depan para dewa‘ dan termasuk sebuah ‘benda milik tubuh manusia satu dengan yang lain’.
Dengan suatu ke-Esa an utama dari keempat bumi dan langit , para dewa dan makhluk hidup semestinya menjadi satu “
“SECEPAT USAHA KITA MEMIKIRKAN TENTANG DUNIA YANG BERGUNA DALAM HUBUNGANNYA SEBAGAI TEMPAT TINGGAL , KITA AKAN TAHU LEBIH JAUH TENTANG APA YANG TERKANDUNG DALAM PROSES PEMBUATAN ARSITEKTUR
DIMANA DIBANDINGKAN DENGAN BANGUNAN , ARSITEKTUR TERSEBUT LEBIH UNGGUL UNTUK BANGUNAN YANG MEMBAWA KE “EMPAT BAGIAN” KE SINI KE DALAM SUATU BENDA DAN MEMBAWA MAJU BENDA ITU SEBAGAI SEBUAH TEMPAT, LEPAS DARI APA YANG TELAH ADA DI SANA , RUANG YANG HANYA DIBUAT OLEH TEMPAT INI.
…………………………………. (HEIDEGGER , 1975 : 159)
Memahami Arsitektur
beberapa sumber pernyataan awal tentang arsitektur

Proses membuat arsitektur menurur Heidegger dalam penjelasannya Heidegger mengungkapkan bahwa dalam membuat arsitektur ada dua proses yang harus dibedakan yaitu :
- pembuatan bangunan sebagai obyek fisik
- sebuah produksi yang membawa sesuatu lebih maju
Kata architecture berasal dari kata Yunani yaitu ‘tec‘, dengan mengacu istilah Heidegger ‘techne‘ bahwa istilah tersebut tidak pernah memiliki arti ‘seni atau kerajinan’, tetapi lebih bermaksud untuk ‘membuat sesuatu terlihat’.
kata ‘tec’ bisa juga berarti menyusun atau membuat (khususnya dengan kapak), atau bisa juga berarti membuat anyaman dahan / rotan untuk menutupi dinding tanah bangunan.
beberapa sumber pernyataan awal tentang arsitektur
Berasal kata Latin ‘texere’ yang berarti menyusun dan membuat ; sedangkan dari kata Yunani ‘techne’ atau ‘tekton’ berarti menyerahkan pekerjaan pada pembuat dengan kapak ( tukang kayu ).
Bagian pertama dari kata arsitek berasal dari kata dasar ‘arkhein’ , yang berarti untuk memulai, mengatur, memerintah juga untuk menjadi orang yang pertama, menjadi pemimpin,
oleh karena itu arsitek adalah pimpinan ahli kayu, ahli yang utama atau pimpinan tukang yang ahli.
ARSITEK SEBENARNYA BEKERJA PADA BAGIAN KONSTRUKSI, DIMANA IA MEMBERIKAN INSTRUKSI PADA PARA TUKANG DAN PEKERJA, ATAU MENGATUR ORANG UNTUK MENCAPAI HASIL AKHIR YANG IA IMPIKAN
arsitek sebagai ahli konstruksi
construction berasal dari bahasa Latin yaitu ‘struere’ yang ada hubungannya dengan kata ‘strew‘ dalam bahasa Inggris dan kata ‘streuen’ dalam bahasa Jerman.
Dalam bahasa inggris ‘strew’ dapat berarti menaburkan bunga , namun dalam bahasa Jerman dapat berarti menaburkan pasir , dapat pula berarti menyemprotkan atau menyebarkan.
Kata ‘strew’ (jerami) juga berhubungan dengan kata aslinya ‘struere’, dan ketika jerami atau tanaman berserat lain dipakai sebagai penutup atap , ia dibentangkan dalam lapisan-lapisan.
yang merupakan arti sesungguhnya dari konstruksi ( con-struere ), awalan ‘con ‘ berarti membawa , melakukan secara bersama atau menggabungkan.
Mies van de Rohe mengungkapkan bahwa:
Arsitektur dimulai ketika anda menempatkan dua potong bata secara bersamaan secara hati-hati.
Sekarang sepotong bata itu benar-benar ‘sesuatu’ , ia mengatakan dengan senyumnya, Itu benar-benar bangunan dan bukan gambar arsitektur.
bangunan yang dapat dikatagorikan sebagai arsitektur tidak hanya tampil mewadahi kegiatan manusia , dan juga bukan hanya sekedar seonggok bahan bangunan yang disusun diatas sebidang lahan saja , tetapi bangunan yang arsitektur tersebut akan menyiratkan “sesuatu” “mengatakan sesuatu kepada pengguna dan pengamatnya” .
………………… Winand Klassen [1990 : 14,15]
perbedaan antara BANGUNAN dan ARSITEKTUR
menurut Josef Prijotomo
1.BANGUNAN adalah Sesuatu yang didirikan atau yang dibangun. seperti rumah, gedung, taman dll, Sedangkan ARSITEKTUR adalah Sesuatu yang dihadirkan dengan berolah Seni dan Ilmu Merancang serta membuat konstruksi bangunan atau metode dan gaya rancangan suatu konstruksi bangunan (KBBI)
2.BANGUNAN adalah Lingkungan binaan dengan perhatian pada aspek kuantitatif dan sains, seperti misalnya : taksiran ekonomi dan topografi penalaran ilmiah matematikal, ke handalan konstruksi, keamanan dan keselamatan nyawa penghuni, kenyamanan hayati dan ragawi, ataupun dayaguna / volume ruang. Sedangkan ARSITEKTUR adalah Lingkungan binaan dengan perhati-an pada aspek ‘kualitatif dan seni’ serta humaniora, seperti misal : kesan dan suasana , nilai dan makna, kejiwaan kebatinan dan adat religiositas dan kesosialan, artistika dan estetika.
3.BANGUNAN terbebas dari kemungkinan adanya berbagai penafsiran (tafsir tunggal), sedangkan ARSITEKTUR Ditafsir dalam berbagai cara, bentuk ataupun corak penafsiran ( tafsir majemuk )
4.Pada BANGUNAN pengkajian didominasi dengan menghitung , mengukur , atau analisis dan pengukuran sedangkan dalam ARSITEKTUR Pengkajian memungkinkan berbentuk kritik serta apresiasi, disamping perhitungan, penganali-saan dan pengukuran
5.Pada BANGUNAN penilaian sangat mutlak yaitu ‘salah’ dan ‘betul’ sedangkan ARSITEKTUR menuntut pula adanya penilaian indah dan jelek , maupun baik dan buruk , serta benar dan keliru.
potensi-potensi sebagai pengenal pembedaan
Bahwasanya ada potensi tertentu dalam diri manusia yang dapat dipakai untuk menunjukkan perbedaan antara bangunan dan arsitektur dapatlah diruntut dan ditelusuri dari pertanda – pertanda diluar arsitektur dan bangunan itu sendiri.
yang pertama , adalah adanya perbedaan antara ilmu dengan seni, apabila dikatakan bahwa ilmu itu bersumber pada akal dan pikiran manusia , maka seni itu bersumber pada rasa dan emosi manusia.
yang kedua , adanya perdebatan yang belum juga ada akhirnya mengenai letak ‘keindahan’ itu ; apakah dia berada pada diri arsitektur dalam diri manusia ataukah dalam peristiwa yang saat manusia melakukan kontak dengan obyek.
yang ketiga , adanya akal , pikiran dan perasaan , serta budi nurani dalam diri manusia.
pernyataan Arsitektural
“KUALITAS KOMUNIKASI MERUPAKAN DASAR DARI PENILAIAN PUBLIK DAN EVALUASI KOLEKTIF TERHADAP ARSITEKTUR”.
Bangunan yang dianggap sebagai arsitektur yang baik adalah bangunan yang mampu mengakomodasikan sejumlah komunikasi ke dalam suatu totalitas, dan dengan ringkas dan luwes mengungkap- kan atau mengekspresikanya.
- Kemampuan arsitek untuk menampilkan ‘gambaran’ atau ‘citra’ (image) yang akan dikomunikasikan ke dalam sebuah bangunan, karena pemilihan citra ini akan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku manusia para pengguna dari bangunan tersebut.
- Sejumlah elemen – elemen komunikasi (communicating elements) mampu memperkuat suatu citra total atau memisahkan dan mengungkapkan aspek yang berbeda-beda dari bangunan.
Salah satu masalah utama perancangan adalah menentukan pilihan ekspresi aritektural , banyak sekali alternatif-alternatif penyelesaian , tugas yang sulit ialah memilih yang paling efektif di dalam memberikan citra visual yang tepat pada bangunan.
Permasalahan yang mungkin timbul di dalam pilihan-pilihan itu ialah :
- perancang harus merumuskan suatu bidang permasalahan yang luas dari kemungkinan- kemungkinan pemecahan disain.
- masalah tersebut menjadi lebih rumit jika kita menyadari bahwa keputusan-keputusan yang diambil yang bersifat luas dan bersifat umum akan sangat terbuka untuk di-interpretasi.
- terjadi kritik-kritik mengenai gedung-gedung itu berkembang sekitar falsafah-falsafah yang mendasari pilihan ini.
Tiga arahan dalam penentuan citra bangunan, :
- memahami arti (meanings) yang diinginkan dari bangunan dan bentuk-bentuk atau citra ( image ) yang ada kaitannya dengan arti itu.
- memahami kepentingan relatif dari arti (meanings) itu yang harus diungkapkan di dalam bangunan.
- menentukan urut-urutan yang logis dari konstrusi bangunan (dalam pengertian komponen dan elemen bangunan) yang akan mengembangkan citra ( image ) visual tersebut dan menyelesaikannya.
SETELAH ARSITEK MEMILIH SUATU CITRA KOMUNIKASI YANG MENYELURUH, KEPENTINGAN RELATIF DARI UNSUR-UNSUR INDIVIDUAL HARUS DIBERI PERHATIAN. UNTUK MELAKUKAN HAL ITU ARSITEK HARUS MERUMUSKAN SUATU DAFTAR HIRARKHIS MENGENAI IDEA-IDEA ATAU KONSEP-KONSEP YANG MEMBENTUK BANGUNANNYA
arsitek harus menentukan salah satu dari sejumlah teknik (technique) yang sesuai untuk dipergunakan pada sebuah proyek / bangunan yang dirancang.
Para arsitek harus menguasai keaneka-ragaman yang luas mengenai teknik-teknik perancangan dan mengetahui kapan dan dimana teknik-teknik itu harus mereka gunakan dengan tepat.
SIDNEY OPERA HOUSE
Jorn Utzon (1974) Sidney, Australia

citra yang diterapkan pada “The Sydney Opera House“ adalah citra “Kapal Layar di pelabuhan Sydney”, dan Opera House dirancang dengan sebuah struktur shell yang menggambarkan layar-layar yang menggelembung.
Permasalahan image pada Sydnye Opera House ini dapat dan akan selalu diperdebatkan sepanjang masa;
- Ada argumen yang mengatakan bahwa :
“image itu merupakan ekspresi lyrik yang menyesuaikan dengan tapak dan lingkungan”,
- Ada argumen yang mengatakan bahwa :
“image itu harus dikembangkan dengan dasar yang lebih berkaitan erat dengan “opera” , yaitu penutup akustik yang sesuai”.
pernyataan – pernyataan tentang Arsitektur

Arsitektur menurut OSWALD MATHIAS UNGERS
1. penetapan kedudukan arsitektur dalam spektrum pengetahuan : arsitektur sebagai ilmu , sebagai seni atau sebagai keduanya.
2. nampak perbedaan antara arsitektur dengan bangunan , tetapi itu bukanlah perbedaan dalam hal kedudukan arsitektur yang lebih tinggi kertimbang bangunan, tetapi memang keduanya tidak mungkin untuk dibandingkan antara satu dengan yang lain.
3. memperlihatkan konsekuensi yang harus ditempuh terkait dengan tema dan tujuan arsitektur , dan bagaimana semestinya arsitektur itu dihadirkan.
4. penegasan pengertian tentang arsitektur dalam kaitannya dengan ‘fungsi’.
Arsitektur menurut MANGUNWIJAYA
Kunci didalam menjelaskan tentang apa itu arsitektur adalah terletak pada kata – kata ‘Guna’ dan ‘Citra’.
‘Guna’ : lebih menunjuk pada segi ketrampilan / kemampuan, sedangkan ‘Citra’ lebih menunjuk pada tingkat kebudayaan.
“ Agar menjadi roh manusiawi yang sempurna ,
ia (manusia) harus semakin menjadi badan ”.
“ Agar menjadi badan manusiawi yang sempurna,
manusia harus semakin menjadi roh “
Yang disebut hidup ( sejati ) tak lain adalah
leburnya tubuh jasmani dengan batinnya.
Ibarat bejana dan isinya.
Biar bejana tetapi bila tanpa isi
sia-sia disebut bejana,
Tidak semestinya dan tidak berguna.
Demikian juga isi tanpa bejana
sungguh hal yang mustahil
Demi hidup yang baik
Tentulah dibutuhkan bejana dan isi
Sebaiknyalah kedua – duanya.
Arsitektur menurut VITRUVIUS
Teori yang sangat mendasar dalam vitruvianism adalah adanya saling keterkaitan antara tiga faktor utama dalam arsitektur yaitu kekokohan “firmitas” , kenyamanan “utilitas” dan keindahan “venustas”.
Kekokohan akan muncul saat pondasi diletakkan pada tanah keras Kenyamanan, ketika perencanaan bangunan menghindari kesalahan dan menyajikan kemudahan untuk dipakai , dan tiap jenis bangunan memberikan pencahayaan yang cukup dan sesuai ; Keindahan , ketika penampilan bangunan bermutu tinggi dan proporsi bagian-bagiannya sesuai dengan prinsip-prinsip kesimetrian.
paradigma dlm Arsitektur
Di dalam sebuah paradigma akan terdapat :
- Teori yang belum terbukti kebenarannya
- Teori yang sudah terbukti tidak dapat difalsifikasi kan namun belum terbukti dengan pengamatan,
- Teori yang sudah terbukti tidak dapat difalsifikasi kan dan terbukti dengan pengamatan.
PERADABAN KUNO
( Ancient World )
inspirasi dari alam semesta, mitologis dan kosmologis
KLASIK EROPA
( Yunani , Romawi )
titik berat pada estetika bangunan, proporsi, simetri dan geometri, ornamentasi
MODERN
Rasionalisme, berdasarkan rasio dan logika. dominasi fungsi dan struktur
POST – MODERN
Regionalism, olah bentuk dan tampilan bangunan. kembali ke masa lampau
PARADIGMA KOSMOLOGIS DAN MITOLOGIS
Kosmologi menyelidiki dunia sebagai suatu keseluruhan menurut dasarnya.
Kosmologi bertitik pangkal pada pengalaman-pengalaman mengenai gejala-gejala dan data-data, akan tetapi gejala-gejala dan data-data itu tidak ditangkap dalam kekhususannya tetapi langsung difahami menurut intinya dan menurut tempatnya dalam keseluruhan dunia.
……….Anton Bakker, 1995
mitos dan keagamaan menyangkut ke ‘ADA’ an manusia atau semesta dari dasar-dasarnya yang paling akar, paling menentukan, paling sejati”. Pada tahap primer orang mulai berpikir dan bercitarasa dalam alam penghayatan kosmis dan mitis, atau agama. Tidak Estetis
……….YB. Mangunwijaya, 1988.
1. Pada paradigma mitologis dan kosmologis, keindahan bentuk arsitektural bangunan yang terbentuk pertama-tama terjadi bukan karena keindahan semata-mata, tetapi karena adanya tuntutan keagamaan atau penyembahan kepada kosmos (Alam Semesta Raya / Yang Agung ).
2. Azas-azas rohaniah yang menghendaki bentuk tersebut, demi keselamatan atau ada diri daerah, khususnya keluarga-keluarga bersangkutan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar