Rabu, 16 Juni 2010

Hambatan Dalam Merancang


Hambatan Dalam Merancang




Sketsa desain Sydney Opera House dan Implementasi Desain nya


Me
rancang adalah suatu proses kreatif yang bebas. Proses yang dimulai dari ide yang ada di dalam pikiran arsitek ini kemudian dituangkan dalam bentuk sketsa desain di sebuah kertas. Tapi ini bukanlah produk akhir dari seorang arsitek. Tentu saja arsitek ingin mewujudkan ide nya tersebut tidak hanya dalam bentuk gambar, tapi juga dalam bentuk yang lebih konkrit, yaitu bangunan.
Idealisasi arsitek ini ternyata tidaklah mudah diwujudkan. Ada hambatan-hambatan yang akhirnya membuat desain harus dipikirkan kembali, dinegosiasikan kembali, dan dihitung kembali. Apa saja hambatan itu? Mari kita bahas….

Hambatan pertama adalah masalah klasik untuk semua hal, yaitu dana. Arsitek bukanlah seorang yang kaya, yang mampu mewujudkan rancangannya menjadi sebuah bangunan yang berdiri kokoh dan indah dan mampu bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun. Untuk membuat sebuah bangunan sederhana dari bahan beton paling tidak dibutuhkan dana sekitar 1,5 – 5 juta rupiah per meter persegi luasan bangunan (harga bergantung pada upah tenaga kerja, harga bahan, dan lokasi bangunan). Hal ini sangatlah berat bagi arsitek yang penghasilannya tidak lah bisa dikatakan besar. Fee perencana pada sebuah proyek adalah sekitar 7% dari nilai bangunan. Dari 7% itupun tidak semuanya menjadi keuntungan bersih, tentu saja ada biaya-biaya lain seperti biaya tenaga ahli dan terampil yang bekerja sama dengan arsitek dalam mewujudkan bangunannya. Kemudian untuk membayar produk-produk seperti laporan, kertas, tinta, dan sebagainya. Hal ini kelihatannya sederhana dan murah, tapi sebenarnya tidak. Kalau kita hitung-hitung biaya produk bisa menjadi tinggi jika proses meyakinkan klien akan sebuah rancangan dilakukan berulang-ulang kali. Belum lagi menggaji karyawan yang membantu dalam hal administrasi proyek Fakta di atas diambil dari biro arsitek yang jumlah pekerjanya tidak banyak dengan fasilitas yang sederhana. Arsitek akhirnya harus membutuhkan orang lain yang mau dan mampu mewujudkan desain rancangannya. Siapakah dia? Klien lah orangnya. Mari kita tinggalkan sejenak permasalahan klasik dari dunia kapitalis yang sedang menggerogoti kita saat ini :)

Hambatan kedua adalah sinkronisasi antara klien dan arsitek. Dari klausa pertama kita ketahui bahwa arsitek membutuhkan klien untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Tapi apakah mimpi arsitek sama dengan mimpi klien? Seandainya mimpi itu mirip, pastilah ada beberapa ketidaksamaan. Tidak seperti jaman dulu, dimana keputusan arsitek diagungkan bagaikan keputusan seorang dewa. Tidak ada seorangpun yang bisa menentangnya, bahkan kliennya sekalipun. Beda dengan sekarang, arsitek bertugas untuk menerjemahkan mimpi-mimpi klien agar bisa menjadi kenyataan dengan koridor-koridor arsitektural yang dipandu oleh arsitek. Kenapa? Karena tidak semua klien mengerti cara menuangkan ide nya ke dalam bentuk gambar. Klien kadang-kadang hanya mampu mendeskripsikan keinginan mereka pada arsitek, kemudian arsitek lah yang akan membuatkan sketsa nya. Dan tentu saja penterjemahan ini tidak lah selalu mudah, karena kadang-kadang klien sendiri pun tidak mampu untuk mendeskripsikan apa yang ada dipikirannya. Belum lagi jika arsitek bertemu dengan klien yang sering tidak konsisten dengan ide yang telah diberikan dan malah telah disetujui sebelumnya. Arsitek tentu saja harus kembali menyesuaikan apa yang telah digambarnya sesuai dengan keinginan klien. Nah…trik apa yang bisa dilakukan oleh arsitek untuk hal-hal seperti ini? Arsitek sebaiknya memberikan beberapa alternatif desain, sehingga mempermudah klien untuk menentukan pilihannya. Proses perubahan pasti terjadi, tapi paling tidak akan memperpendek proses desain yang bisa memakan waktu lama. Faktor penentu sinkronisasi ini tentu saja adalah kemampuan komunikasi arsitek (lihat blog tentang “Pendidikan Arsitektur dan Profesi nya”). Jika arsitek mampu untuk meyakinkan desain yang ditawarkannya kepada klien tanpa banyak perubahan atau idealnya tanpa perubahan, tentu akan cepat selesai proses desainnya.

Hambatan ketiga adalah trend mode. Faktor ini sedikit banyak menjadi momok yang menghambat proses kreativitas arsitek dalam merancang. Hal ini terjadi karena arsitek nya sendiri yang sering terpengaruh oleh gaya tertentu. Untuk menghasilkan sebuah masterpiece arsitektur saat ini adalah masa-masa yang berat. Berarsitektur terasa mati karena sepertinya tidak ada suatu yang baru dari bangunan yang dibuat. Tidak seperti peralihan antara masa arsitektur klasik menuju arsitektur modern yang sangat ekstrim dan benar-benar merubah paradigma, saat ini perubahan tidaklah banyak. Pakem-pakem dari dua dunia arsitektur yang telah ada tetap saja melekat, walaupun dengan nama baru. Selain itu dari sisi klien juga didapatkan hambatan. Dengan banyaknya acara-acara “griya-griyaan” yang ada di TV, ataupun melalui media cetak seperti majalah dan tabloid arsitektur membuat klien semakin terdidik akan berarsitektur. Seharusnya arsitek bahagia akan hal ini, karena akan mempermudah klien dalam menentukan pilihannya. Tapi apa yang terjadi? Tabrakan-tabrakan desain pun terjadi. Paham arsitektur eklektisme pun merajalela. Sebagai contoh dalam sebuah acara “griya-griyaan” sang pemilik rumah mengatakan rumahnya bergaya modern. Tapi apa yang terjadi? Rumahnya penuh dengan furniture dan ornamen-ornamen yang katanya memperindah rumahnya. Padahal yang dilakukannya adalah melakukan kesalahan yang menghilangkan semangat arsitektur modern, yang berprinsip “less is beautiful”, “ornament is a crime”, dan “simple and clean”, yang dikemukakan oleh arsitek-arsitek ternama dunia. Ada pula yang mengatakan bahwa rumahnya berdesain tropis, tetapi yang terjadi rumahnya tidak tropis sama sekali. Secara tampak memang rumah yang dibuatnya adalah rumah tropis, tapi segala hal di dalamnya menggunakan system buatan seperti AC maupun pencahayaan buatan. Tak kita sangkal pencahayaan buatan tetap kita butuhkan pada malam hari, tapi pada arsitektur tropis, bangunan harus mampu memanfaatkan kondisi alamiah di alam sebagai elemen bangunannya. Seperti cahaya matahari yang bisa menerangi ruangan pada siang hari, dan hembusan angin yang masuk dan menyejukkan bangunan.

Hambatan keempat adalah kondisi alam. Kondisi alam menjadi penghambat dalam merancang karena apabila rancangan yang dibuat tidak bisa dibangun pada lokasi yang akan dibuat, tentu arsitek harus membatalkan desain yang telah dibuatnya untuk disesuaikan dengan kondisi alam. Tidak semua daerah dimuka bumi ini sama. Jika di Jakarta kita bisa melihat gedung-gedung bertingkat sampai 30 lantai lebih, tidak sama halnya dengan Pontianak yang kesulitan untuk membangun gedung tinggi. Kenapa? Karena kondisi tanah Pontianak yang berawa tidak memungkinkan bangunan bisa berdiri tinggi tanpa terjadi penurunan bangunan. Bangunan tertinggi di Pontianak (11 lantai, Gedung BRU) akhirnya tidak berpenghuni karena terjadi penurunan. Jadilah gedung tertinggi dan memiliki nilai arsitektur ini menjadi bangunan sia-sia tanpa fungsi yang memenuhi kota

Hambatan kelima yaitu peraturan bangunan. Hambatan ini sudah pasti terjadi dalam membangun. Batasan-batasan seperti jumlah luas lantai yang boleh dibangun, jumlah lantai yang diperbolehkan, bahkan pengaturan terhadap gaya pada sebuah kawasan pun bisa menjadi penghambat bagi arsitek untuk merancang. Tapi setidaknya peraturan yang dibuat oleh pemerintah ini bisa mengarahkan pada wajah kota yang lebih baik, dengan skyline yang baik. Hambatan ini walaupun menjadi salah satu penghalang bagi arsitek dalam merancang, tapi masih bisa diterima oleh arsitek dengan alasan-alasan yang bisa diterima oleh logika arsitek.

Itulah beberapa hambatan yang bisa menghambat proses kreativitas arsitek dalam merancang. Tapi bagi arsitek, mimpi yang ideal tidaklah harus selalu diwujudkan dalam bentuk bangunan konkrit. Kadang-kadang rancangan yang menjadi sebuah konsepsi pun bisa memberikan kepuasan bagi arsitek, dengan harapan semoga desain yang dibuatnya saat ini bisa diwujudkan tanpa terkendala hambatan-hambatan yang ada saat ini di masa yang akan datang. Marilah para arsitek, jadi lah seperti Leonardo Da Vinci, yang konsep desainnya tidak dibuat di masa dia hidup, tapi implementasi desainnya banyak sekali kita temukan dalam kehidupan kita saat ini. Jangan jadikan hambatan menjadi penghambat dalam proses kreativitas kita dalam tataran ideal. Cukuplah dia menjadi penghambat dalam kenyataan saat ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar