Selasa, 08 Juni 2010

Ekspresionist Design

SYDNEY OPERA HOUSE
Ekspresionist Design
  Sydney Opera House adalah kompleks teater dan hall yang saling terhubung di bawah cangkang putih yang terkenal itu. Sejak dibuka tahun 1973, gedung opera ini menjadi pusat pertunjukkan seni tersibuk di dunia, menggelar sekitar 3000 even tiap tahunnya dengan penonton sekitar 2 juta orang, dioperasikan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu dan hanya tutup saat natal dan paskah. Sejumlah buku dan film  mencatat sejarah 30 tahun, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek Sydney Opera House secara keseluruhan. Salah satunya karya Françoise Fromonot, “Jørn Utzon - The Sydney Opera House”.      
    Kisah gedung opera bergaya Modern Ekspresionis ini dimulai tahun 1957, kala Jørn berumur  38 tahun. Jørn yang membuka studio tahun 1945  dekat kastil Hamlet-nya Shakespeare ini, masih belum dikenal. Jørn tinggal di kota kecil Hellebæk, bersama istri dan ketiga anak mereka, yang kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadi arsitek. Konsep Jørn “tiga cangkang beton berlapis keping putih” tak dinyana terpilih sebagai salah satu pemenang dalam kompetisi internasional merancang gedung opera di tanjung pelabuhan Sydney yang diikuti 230 peserta dari lebih 30 negara pada tahun 1957. Setelah mengerjakan proyek ini di Denmark bertahun-tahun disertai kunjungan berkali-kali ke Sydney, Jørn akhirnya memutuskan memboyong keluarganya ke Sydney akhir 1962.  Utzon memang senang menggarap bangunan publik monumental dan proyek perumahan yang rendah hati. Kekuatan motivasi telah membentuk karir arsitek Denmark ini.
     Atap cangkang bertumpuk karya Jørn bertahta di atas panggung mengesankan karya Ove Arup - pemenang asli kompetisi tahun 1957 ini - adalah skema yang mendobrak tradisi. Utzon bekerja sama dengannya pada proyek ini, sedang saat  menuntaskan desain akhir Jørn bekerja dengan Tobias Faber. Hal itu bermanfaat bagi Utzon untuk menguji gagasannya, sedangkan bagi Faber kesempatan berharga dapat mengamati kreasi dari gagasan besar. Mereka berdua mempelajari karya Gunnar Asplund, mengagumi kekuatan gagasan utamanya yang selalu didukung kesempurnaan detail. Ketika para arsitek tertarik arsitektur Jepang, mereka mempelajari buku-buku tentang monumen Cina dan arsitektur lokal untuk dasar mempelajari tradisi bangunan Jepang. Mereka pelajari juga buku-buku Frank Lloyd Wright dan pendekatan arsitekturnya serta foto-foto menawan dalam buku Jerman ‘Wunder der Natur”.  

Semua itu dilakukan berdasarkan intuisi Utzon akan hal yang akan menjadi esensi arsitektur masa datang. Reaksi mereka atas ketakpedulian kualitas umumnya hasil Gerakan Modern waktu itu, dikumpulkan dalam suatu artikel di majalah Denmark ‘Arkitekten’ tahun 1947. Inspirasi mereka peroleh dari struktur dan tekstur alam, bangunan lokal dan monumental masa lalu di Meksiko, India, Yunani dan Cina. Pendeknya setelah itu, dalam sebuah introduksi pameran kecil, Utzon menjelaskan gagasannya untuk pendekatan baru arsitektur dengan bekal latihan kepekaan diri, pemahaman hukum alam, kebutuhan imaginasi dan mimpinya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar