Minggu, 20 Juni 2010

Referensi desain

MEMIKIRKAN DESAIN
Kecepatan dalam memikirkan desain dari setiap arsitek berbeda-beda. Demikian pula dengan ketepatan dalam memecahkan masalah desain juga berbeda pula. Setiap arsitek yang sering mengasah dan melatih diri dalam proses desain pasti akan lebih cepat dan tepat dalam menyelesaikan desain. setiap arsitek yang selalu terbuka untuk mempelajari hal baru pasti juga akan selalu lebih mudah menyelesaikan desain. setiap arsitek yang lebih sering berapresiasi dengan karya arsitektur pasti juga akan lebih tepat mendapatkan solusi desain.
c01
Arsitektur perlu dipikirkan, dipelajari, dilatih dan diapresiasi. Berbagai catatan proses mempelajari arsitektur perlu direkam baik dalam gambar, tulisan maupun rekaman pikiran. Hasil pembelajaran arsitektur tersebut merupakan bank data yang sangat penting bagi arsitek untuk menetapkan solusi bagi desain yang sedang dihadapinya. Secara alami, lama waktu belajar dapat meningkatkan kompetensi menjadi lebih baik. Seorang mahasiswa semester akhir yang memiliki lama waktu belajar lebih dari mahasiswa semester awal pasti memiliki desain yang lebih baik. Seorang arsitek yang belajar dari pengalaman lebih banyak dari arsitek lain hampir pasti pula akan memiliki desain yang lebih baik.
c02
Namun demikian, tolok ukur waktu di atas juga dipengaruhi oleh sikap mental dan kemauan dalam belajar. Mahasiswa di semester akhir yang belajarnya lama dapat saja menghasilkan desain yang lebih buruk daripada mahasiswa di semester awal jika cara belajarnya salah dan tidak terkendali. Kebanyakan arsitek profesional yang desainnya baik ditentukan oleh ketepatannya dalam belajar dari pengalaman.
c6
Setiap manusia pasti memiliki konsep dalam kehidupan, konsep ini akan berbeda sesuai dengan latar belakang dan persetujuan manusia terhadap sebuah prinsip. Demikian pula arsitektur sebagai hasil karya manusia, juga tidak akan pernah terlepas dari konsep. Arsitektur tanpa konsep hanya akan menjadi karya kosong yang hanya pantas pula disebut sebagai ’bangunan’ saja.
b1
Konsep dapat dicari dan diterapkan dalam desain arsitektur melalui beberapa jalur yang ingin ditonjolkan. Sebuah desain yang mengutamakan konsep bentuk dengan olah geomettri selayaknya secara konsisten akan menghasilkan sesuatu yang khas dalam olah geometrinya. Sebuah desain yang mengutamakan konsep penetapan aktifitas akan pula menghasilkan karya arsitektur yang memiliki kekhususan dalam aktifitas. Jika konsep struktur tidak disentuh untuk diutamakan, hampir pasti karya tersebut juga tidak akan memiliki kekhususan dalam rekayasa struktur. Begitu besarnya peran konsep dalam perwujudan arsitektur.
b2
Desainer dapat memilih konsep dalam sudut pandang apapun, dan apapun pilihannya, kualitas arsitektur akan dapat dinilai dari konsep yang diutamakan. Jika konsep olah geometri yang diutamakan sedang di saat mendesain tergoda dengan kopsep rekayasa struktur, maka menjadi berkuranglah kualitasnya. Namun demikian, dalam proses desain seorang arsitek dapat saja merubah konsep jika konsep awal yang ditetapkan terasa kurang memenuhi ide yang ingin ditampilkan.
Arsitek dapat pula berpendapat bahwa konsep itu tidak perlu, dalam kasus ini arsitek tersebut sebenarnya sudah memiliki konsep yaitu : ’tidak perlu konsep’, tinggal dilihat saja konsistensinya.
Sebagaimana sebuah kegiatan belajar, desain arsitektur merupakan aktifitas yang mengalami proses pemahaman dari tidak tahu manjadi tahu, selanjutnya dari tahu menjadi lebih tahu. Belajar arsitektur dapat dimulai dari manapun. Dari tatanan ruang, dari sistem konstruksi, dari tradisi dan langgam, dari pengolahan bentuk dan lain-lain. Berbagai elemen desain ini dapat pula dipadukan, contohnya dengan mempelajari langgam sekaligus geometrika, mempelajari estetika bentuk sekaligus konstruksi, dan lain-lain elemen sebagai konteks pengawal belajar pula. Demikian banyaknya alternatif bagi orang yang mengawali belajar arsitektur.
a1
Hal yang perlu diperhatikan dalam belajar adalah memahami sesi belajar. Bagaimana seseorang memulai dengan mempelajari hal-hal yang bersifat standar menuju hal yang lebih kompleks dan teoritis. Bagaimana mempelajari hal yang bersifat umum menuju hal yang bersifat khusus. Bagaimana mempelajari hal dengan pengetahuan yang dangkal menjadi sesuatu dengan pengetahuan yang dalam. Bagaimana mempelajari hal dari yang lebih sempit menuju pada hal yang lebih luas.
a2
Baik pendidik maupun mahasiswa yang mempelajari arsitektur perlu bersama-sama memegang kendali dalam proses belajar. Terkadang pengalaman pengajar yang cukup tinggi mempengaruhi kendali bahwa saat tertentu dia harus berada dalam tataran waktu untuk mengajar hal yang lebih mudah, dangkal dan sempit. Terkadang pula sang mahasiswa belum tuntas mempelajari hal yang dangkal secara utuh sudah terpikat menuju hal yang lebih dalam. Jejalur belajar arsitektur layaknya perlu ditetapkan untuk dijadikan acuan sebagai progres di dalam proses. Hal-hal sederhana yang ada dalam kehidupan sehari-hari dapat digunakan sebagai awal untuk belajar sebelum menginjak hal imajinatif dan inovatif.
a3

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar