Rabu, 16 Juni 2010

Geometri: Kebebasan Ekspresi Keindahan Dilatarbelakangi Kebudayaan

Novelisa Sondang D.
Geometri menjadi salah satu ilmu matematika yang diterapkan dalam dunia arsitektur; juga merupakan salah satu cabang ilmu yang berkaitan dengan bentuk, komposisi, dan proporsi. Akan sangat baik jika kita melihat arsitektur tidak hanya keberadaannya pada masa sekarang, namun berbalik ke belakang dan mendalami hakekat berarsitektur sejak jaman primitif – ketika kata arsitektur bukanlah bermakna sebagai sebuah ilmu bangunan melainkan sebagai sebuah kebutuhan bertinggal yang tidak diberi nama.
Arsitektur tradisional menjadi saksi bahwa arsitektur menjadi salah satu ilmu tertua di dunia, yaitu dengan melihat dari adanya kebutuhan bertinggal/bernaung sehingga memunculkan sebuah tempat/wadah bertinggal. Dari titik kebutuhan itu, arsitektur mulai muncul dan lambat laun berkembang menjadi ilmu. Kebutuhan bertinggal adalah kebutuhan primer, sehingga memunculkan sebuah wadah yang mampu menjawab prasyarat untuk berlindung sehari-harinya. Manusia tradisional membuat wadah yang mampu melindungi mereka dari cuaca dan iklim sehingga dapat berkegiatan setiap saat tanpa terganggu oleh alam. Jawaban akan kebutuhan primer ini kemudian berkembang lagi saat manusia sudah mulai mengenal keindahan, dan keindahan berasal dari kebudayaan yang dianut.
Kebudayaan datang dari manusia, ungkapan dirinya, baik dalam hal cara berpikir, cita rasa serta seleranya, yang tentulah bersifat fana dan relatif” (Mangunwijaya, 1995). Keindahan adalah sesuatu yang subyektif. Kebudayaan manusia inilah yang memberikan tolok ukur keindahan pada kelompoknya masing-masing (orang Dayak dan orang Bugis mungkin memiliki pemahaman indah yang berbeda), memberikan sebuah pemahaman keindahan yang diajarkan turun temurun sehingga membentuk pola pikir ’indah’ yang tertentu. Keindahan arsitektur bangunan tradisional adalah salah satu yang berasal dari kebudayaan tersebut.
Arsitektur menjadi salah satu aspek terpenting dalam perkembangan kebudayaan dan adat daerah tertentu, menjadi sebuah simbol keindahan kebudayaannya. Keindahan arsitektur tradisional sebuah daerah adalah sebuah penerapan geometri secara tidak sadar. Berbagai kepercayaan mengajarkan keseimbangan, dualisme, orientasi, dsb. dan diinterpretasikan secara arsitektur pada proporsi dan komposisi bangunannya. Arsitektur dengan proporsi dan komposisi tertentu pada suatu daerah akan dianggap indah berdasarkan kebudayaan yang dianutnya. Ini adalah sebuah penilaian subyektif. Salah satu contoh ialah bentuk atap yang berbentuk limas atau prisma memiliki proporsi simetris. Atap merupakan salah satu prinsip berbudaya yang mengakar pada sebuah suku bangsa, merupakan salah satu analogi dari penyambung antara kehidupan duniawi dan surgawi. Dewa-dewi atau tuhan dipercaya berada di tempat tinggi, tempat tinggi biasanya merujuk pada gunung, yaitu sebuah tempat yang tinggi. Jika dilihat dari bentuknya, dapat dilihat bahwa bentuk atap merupakan adaptasi dari bentuk gunung.

Gambar 1. Rumah Panjang, rumah adat suku Dayak.
Ukurannya yang tidak biasa justru menjadikannya sebagai nilai keindahan.
Gambar di atas ialah salah satu rumah adat suku di Indonesia, yaitu suku Dayak. Jika dilihat dari bentuknya, mungkin beberapa orang akan menganggap rumah tersebut aneh dan tidak indah. Namun, orang Dayak menilai Rumah Panjang sebagai salah satu bentuk keindahan. Rumah Panjang tidak didiami oleh satu keluarga saja, melainkan oleh beberapa keluarga dan memiliki nilai guna tertentu. Dapat dilihat pada gambar, bahwa bagian bawah rumah digunakan sebagai tempat berkumpul jika ada sebuah perhelatan adat. Hal ini menunjukkan bahwa ada dua nilai dalam sebuah kata ’arsitektur’, yakni nilai guna dan nilai citra (keindahan yang subyektif).
Citra menunjuk pada tingkat kebudayaan sedangkan guna lebih menuding pada segi ketrampilan/kemampuan (Mangunwijaya, 1995: 31). Dan setiap keindahan yang terkandung dalam sebuah obyek hendaklah mendukung nilai gunanya. ”Beauty is not only the spice and luxury of life, but it is a prerequisite of ecological survival because it supports human life in all superior aspects - as ARISTOTLE said, to ‘maintain the just measure’” (Langhein, 2001).Citra dan guna tersebut kemudian berujung pada geometri sebagai salah satu pangkal analisisnya.
Keindahan dan kegunaan yang kita bicarakan bukan hanya merujuk pada benda buatan manusia saja, namun berlaku pula pada alam.
Sayap kupu-kupu, tanduk rusa raja, bulu-bulu cendrawasih, sisik ikan, bahkan sikap perangai dan ulah kelakuan lumba-lumba atau anjing pun tidak cuma berbiologi belaka, menjalankan kelangsungan diri dan mempertahankan diri fisik belaka. Ada unsur-unsur yang ”lebih dari asal berguna”. Bulu-bulu cendrawasih dan bentuk-bentuk rumah binatang koral maupun penampilan rupa ikan-ikan di Laut Banda ”tidak harus” seindah itu. … Para ahli biologi saat ini yakin: ada sesuatu yang LEBIH daripada soal efisiensi teknis dan fungsional bertahan diri belaka. Ada dimensi ”budayanya”, bahkan ada unsur-unsur yang merupakan bayangan semacam ”nurani” pada diri makhluk binatang.” (Mangunwijaya 1995: 6-7)
Hal yang dipaparkan oleh Romo Mangun di atas adalah bukti keindahan alam yang berlaku untuk alam, ada sebuah keteraturan (order) dan keindahan yang tercermin di baliknya. Dan keindahan tersebut memiliki sebuah jalur budaya yang mungkin tidak dapat dimengerti seluruhnya oleh manusia. Sebuah prinsip geometri yang secara terintegrasi menjadi bagian dalam kehidupan alam, geometri alam hanya dapat dianalisis namun tidak dapat diciptakan oleh manusia.
(2a)   (2b)   (2c)
Gambar 2. Sayap kupu-kupu yang indah, tulang daun simetris dan tanduk rusa yang kurang efisien untuk pergerakan, namun indah
Sumber:
(2a) http://www.wetcircuit.com/…/2006/03.butterfly.jpg
(2b) http://psychoactiveherbs.com/catalog.images/kratom-leaves2.jpg
(2c) http://www.travel2canada.com/pics/hide.deer.jpg

Arsitektur selalu saja berkaitan dengan perihal ’indah’ dan ’tidak indah’, dan tanpa disadari perihal inilah yang berkaitan dengan geometri. Salah satu sub judul pada essay yang ditulis oleh Dr. Joachim Langhein berbunyi ”Proportion as a guiding pattern for establishing beauty”. Disebutkan pula bahwa proporsi memiliki kaitan erat dengan geometri, walaupun prosedur non-geometri juga memungkinkan adanya proporsi. Geometri proporsi menyangkut simetri yang mengontrol aksis pencerminan, rotasi, stretching, dll. Simetri pencerminan merupakan salah satu pola simetris terpenting dalam arsitektur, khususnya pada ornamen arsitektur.

Gambar 3. Bangunan dengan proporsi simetris
Sumber: Langhein, 2001
Saya percaya akan paradigma ‘simetris adalah indah’; tidak ada yang salah dalam pola pikir tersebut. Dan lebih jauh lagi, saya mempercayai bahwa paradigma tersebut muncul karena latar belakang budaya. Bahkan arsitektur tradisional Indonesia juga menerapkan pola simetrikal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang diterapkan pada bangunan Romawi, simetris dengan pencerminan; seimbang antara kiri dan kanan; bahkan terdapat pula prinsip orientasi yang berakar pada makro dan mikro kosmos.
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa geometri adalah sebuah pembebasan berarsitektur. Mengapa? Jawabannya adalah karena penilaian keindahan hanyalah hasil dari kebudayaan, bukan sebuah guideline atau pakem yang harus diikuti dan dipercayai. Saya tidak mengesampingkan nilai budaya, namun kata ‘hanyalah’ adalah penekanan pada kepercayaan saya pada budaya itu sendiri. Saya adalah manusia yang berbudaya, dan karena budaya tersebut saya mampu mendefinisikan (lebih tepatnya: mengklasifikasikan) ‘indah’ dan ‘tidak indah’ - keindahan dengan cara maupun sudut pandang masing-masing, dengan geometri yang terintegrasi di dalamnya.

Geometri adalah Ekspresi Diri

Ekspresi merupakan sebuah aktivitas yang tidak terbatasi, dan dapat dilakukan oleh setiap makhluk, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Ekspresi yang produk ungkapannya adalah cerminan budaya masing-masing individu, memiliki nilai guna dan nilai citra yang mampu dipertanggungjawabkan. Produk dari ekspresi diri tidaklah memiliki batasan-batasan yang harus dipatuhi, namun justru menuntut tolok ukur keindahan itu sendiri.
Geometri yang diterapkan dalam ilmu arsitektur menjadi relevan dengan keberadaan pengertian keindahan berlatar belakang kebudayaan, dan geometri yang didefinisikan sebagai kesatuan antara proporsi dan komposisi. Ketika merancang sesuatu, arsitektural maupun non-arsitektural, manusia berpikir tentang nilai guna dan nilai keindahan. Ketika mengacu pada nilai keindahan, maka pemahaman geometri akan terpikir secara tidak sadar. Ilmu komposisi dan proporsi akan terintegrasi dalam proses tersebut. Pada titik ini saya lalu berpikir bahwa sebenarnya geometri mulai menjadi salah satu bagian dari budaya itu sendiri.
Setiap orang yang melalui proses merancang tersebut akan menghasilkan produk berbeda-beda, walaupun diberikan pemicu yang sama. Keragaman yang muncul pada masing-masing produk merupakan salah satu contoh kecil pada ‘kebebasan berekspresi’. Kebebasan inilah yang kemudian merujuk pada sebuah pemahaman bahwa geometri tidak mengikat kebebasan berekspresi dalam arsitektur. Tidak perlu mempertanyakan adanya paham gaya atau style karena keberadaan gaya atau style bukanlah sesuatu yang muncul dengan tujuan memang untuk menjadi sebuah gaya atau style. Tidak ada produk baroque yang sama persis satu dengan yang lain, begitu pula dengan produk art deco maupun produk klasik. Gaya atau style muncul karena kemiripan penerapan budaya pada arsitektur sehingga memunculkan klasifikasi tertentu.
Pada akhirnya, maka kita akan kembali pada hakekat berarsitektur. Romo Mangun dalam bukunya Wastu Citra menulis demikian: “Berarsitektur ialah berbahasa dengan ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan bahan dan suasana, seudah sewajarnyalah kita berarsitektur secara budayawan, dengan nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektural yang baik”. Arsitektur yang indah adalah arsitektur yang mempedulikan nilai gunanya, dengan nilai keindahan sebagai tingkat spiritual di dalamnya. Bukanlah sebagai produk yang hanya dipandangi sebagai “patung”, namun sebagai sesuatu yang dapat diselami makna maupun ke-tiga dimensi-annya (atau bahkan hingga dimensi ke-empat). Geometri tidak pernah mengikat kita untuk mengekspresikan keindahan, justru memberikan kebebasan berbahasa dengan ruang, garis, bidang, maupun material.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar