Sabtu, 19 Juni 2010

APRESIASI BUNG KARNO TERHADAP SENI DAN ARSITEKTUR JAKARTA


APRESIASI BUNG KARNO TERHADAP SENI DAN ARSITEKTUR JAKARTA

Sampai saat ini, ingatan pada tokoh revolusi Bung Karno belumlah hilang. Tokoh yang tidak hanya berjasa memproklamirkan kemerdekaan, menjadi presiden pertama, figur yang terkenal sampai ke luarnegeri dengan pendirian yang tegas, dan cara menyampaikan pidato yang selain berapi-api. juga kaya dengan konsep pemikiran yang matang.
Namun jarang yang mengenang mengenai apresiasinya dengan seni, pemikirannya dengan seni, gagasan-gagasannya sebagai arsitek dan juga pemimpin bangsa.
Semangat kebangsaan yang menggelora sebelum Kemerdekaan Indonesia terwujudkan dalam sikap martabat bangsa yang berbudaya tinggi.Selain perjuangan fisik, para senimanpun turut berperan serta dalam perjuangan di bidang keseniian dan kebudayaan. Sejak masa penjajahan Belanda, para seniman telah berpartisipasi dalam berbagai wadah budaya. Pada masa penjajahan Jepang yang berlangsung singkat, Bung Karno memimpin PoeTeRa (Poesat Tenaga Rakyat) sebagai wadah seniman pada saat itu,yang melibatkan berbagai tokoh seni seperti Basuki Abdullah, Afandi, Sudjojono,Henk Ngantung, Hendra dan lain lain. Bidang seni budaya yang bernaung dalam PoeTeRa juga banyak, seperti seni tari, lukis,teater,kriya dll.
Seiring dengan perkembangan politik saat itu, kiprah BK dan seniman lain dalam seni budaya juga dipengaruhi semangat perjuangan revolusi saat itu. Cita-cita kemerdekaan dan impian menjadi bangsa berdaulat dan disegani di kalangan dunia internasional membuat para seniman Indonesia pada saat itu mencurahkan idealisme mereka pada seni yang digelutinya.Menciptakan suatu karya bukan hanya untuk tujuan materi semata, juga bukan hanya untuk mendapat kepuasan pribadi, tetapi juga sebagai manifestasi luapan expresi jiwa yang melawan feodalisme dan kolonialisme. Setiap karya seni terutama seni lukis membawa nuansa perjuangan dalam setiap guratan kwas, tekanan kwas ,bentuk dan warnanya. Karakter pelukis sangat dominan dan pesan yang tersirat dalam lukisan menyuarakan hasrat perjuangan disamping aspek kemanusiaan lainnya. Semuanya itu tak lepas dari pengaruh Bung Karno pada saat itu.
Pada suatu hari, Bung Karno berkata kepada pelukis Istana Dullah :"Dullah, Jika aku tidak dalam politik, aku akan jadi pelukis atau dalang". Kalimat ini memang realistis, karena saat belum menjadi presiden, BK pernah dibuang Belanda ke Pulau Ende, NTT. Saat itu Bung Karno melukis pemandangan Pulau Flores dengan cat air.
Tidak cukup dengan memimpin dan mengarahkan seniman berkreasi, BK juga telah memanaje pendokumentasian tiap lukisan ataupun seni lain yang ada. Ini suatu antisipasi luarbiasa yang pada saat itu belum banyak diperhatikan orang berhubung kondisi bangsa saat itu. Salah satu kiat BK dalam mendokumentasikan karya lukis saat itu adalah dengan mengadakan pameran lukisan, mencetak buku dan koleksi pribadi yang terinventarisir. Buku koleksi BK yang dicetak di China maupun Jepang merupakan referensi yang sangat penting bagi sejarah dan seni di Indonesia.
JIWA SENI DAN SEMANGAT PEMBANGUNAN
Terinspirasi kebesaran nenek moyang yang mampu membangun bangunan monumental yang dikenal dunia seperti Borobudur, Prambanan dll, mengilhami para pemimpin saat itu untuk mengisi kemerdekaan dan mengejar ketertinggalan dengan membangun gedung-gedung penting dan monumen. Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Revolusi menugaskan beberapa pakar dan seniman untuk studi perbandingan ke beberapa negara, bahkan setiap kali Bung Karno melakukan lawatan ke luar negeri selalu membawa arsitek untuk mempelajari perkembangan ilmu teknik konstruksi dan arsitektur di negara tersebut.Silaban adaaalah salah satu arsitek tersebut, salah satu karya Silaban adalah Mesjid Istiglal. Penunjukan Silaban untuk merancang dan membangun Mesjid Istiglal saat itu juga menunjukkan wawasan kebangsaan yang besar, karena Silaban adalah arsitek beragama Kristen.
Dalam membangun gedung maupun monumen, BK telah menggunakan konsep yang terpadu. Setiap proyek dikerjakan dengan pemrograman yang melibatkan tata kota,arsitek dan konstruktor dan memperhatikan semua aspek perancangan, termasuk diantaranya aspek lingkungan.Beberapa seniman dan teknokrat yang terlibat antara lain Henk Ngantung (pelukis), Silaban (arsitek), Prof.Rooseno dan Ir.Sutami (konstruksi/sipil). Monumen Nasional (Monas) telah menimbulkan kekaguman Sri Paus yang berkunjung tahun 1975. Jembatan Semanggi di kawasan Senayan mengundang decak kagum dunia internasional karena gagasan jalan layang saat itu merupakan ide brilian dalam mengantisipasi kemacetan lalu lintas.Stadion Senayan, Sarinah, Patung Selamat Datang, Patung Pembebasan Irian Barat, Patung Dirgantara dll telah memperindah kota Jakarta. dan membuat Jakarta tidak kalah dengan kota-kota besar dunia . Dalam perencanaan maupun pelaksanaannya, BK selalu terbuka untuk bertukar pikiran dengan para ahli teknik konstruksi, arsitek, ekonom maupun seniman, bahkan militer. Bukti kepedulian beliau terungkap dengan dipilihnya Henk Ngantung (pelukis) dan Letnan Jenderal Ali Sadikin untuk mewujudkan citra seni yang integral dengan pembangunan bangsa.
Sebagai pelukis, Henk Ngantung tak lupa mengumpulkan semua catatan mengenai pembicaraan dengan BK baik yang formal maupun percakapan santai dalam bukunya Karya Jaya. Sedangkan Bang Ali Sadikin menindaklanjuti ide besar dengan pelaksanaan berbagai proyek perintis.Seniman lain juga diundang BK, S.Sudjojono,Lee Man Fong, Basuki Abdullah,dan juga seniman teater, musik,tari dan perfilman.
Hasil proyek dapat terud dinikmati sampai saat ini.Taman Ismail Marzuki sebagai pusat kesenian, sampai sekarang masih menjadi icon kesenian di tanah air. Taman Impian Jaya Ancol juga bahkan terus berkembang menjadi waterpark dan oceanarium terbesar di Asia Tenggara. Museum-museum telah melestarikan berbagai aset budaya bangsa.
Hal-hal yang menjadi prinsip Bung Karno :
  • Bung Karno kurang menyukai detail-detail yang rumit dan kecil, tetapi sangat menyukai kepada yang besar, perkasa, bersifat monumental.Monumen Nasional adalah contoh jelas prinsip BK tersebut, menara yang relatif polos, namun tinggi menjulang di satu openspace raksasa kawasan Gambir telah menjadi landmark bagi Jakarta, sejajar dengan landmark negara lain seperti Statue of Liberty, Eiffel, Sidney Opera House dll.
  • Bung Karno menyukai karya yang bersifat abadi, dan murni kreasi bangsa sendiri, bahkan kadang dekat dengan misteri alam dan misteri sosial. Bung Karno yang anti feodalisme senang mengamati alam, "berdialog" dengan alam dan berpikiran tanpa batas. Mungkin karena hal inilah muncul ucapanya yang terkenal "Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit".
  • Bung Karno menyukai wayang, yang kadangkala mempengaruhi pribadi dan filosofinya. Sebagai anak desa yang tumbuh dalam budaya Jawa, ia tak terpengaruh untuk menjadi "rural-agraris". Pribadi yang halus, sopan namun tegas bertindak. Ia juga sangat menghargai harga barang seni yang diinginkannya, sehingga tidak mau membeli dengan harga murah hanya karena ia seorang yang memiliki kedudukan tinggi.

Keputusan penting.
Menjelang akhit dasawarsa 50-an, timbul spekulasi bahwa ibukota akan dipendahkan dari kota Jakarta. Untuk menepis segala kesimpangsiuran tersebut, Bung Karno langsung menyatakan dalam pidatonya pada perayaan Ulang Tahun Kota Jakarta tahun 1960 di Gedung Olahraga Ikada, bahwa : Jakarta tetap merupakan Ibukota NKRI. PP No.2 tahun 1961 merubah kota Jakarta dari Daerah Tingkat I menjadi Daerah Khusus Ibukota, yang secara otomatis menjadikan Gubernur DKI Jakarta berada langsung di bawah Presiden. Keputusan ini diperkuat dengan Undang-undang no 10 tahun 1964.
Dengan kukuhnya status Jakarta, semakin bergairah para investor, pengusaha dalam berusaha di Jakarta. Tahun 1962 , Asian Games yang keempat sukses di Jakarta, dengan penggunaan venue-venue baru yang megah.
Beberapa gagasan "Makro" Bung Karno yang telah mengantisipasi segala aspek termasuk futuristik :
Monumen Nasional.
Ketika mencanangkan pembangunan monumen Nasional, Bung Karno tidak hanya terpancang pada satu Monas yang menjulang. Namun kompleksitas dengan kawasan Gambir sebagai open space dan paru-paru kota Jakarta. Monas yang tidak hanya sendirian di tengah tanah lapang, namun didukung oleh Mesjid Istiqlal, Kathedral, Tugu Pak Tani dll,
Kawasan Ancol.
Dahulunya kawasan ini adalah hutan mangrove, tambak dan kumuh. Atas nasihat arsitek Silaban yang baru saja selesai berkunjung ke Brasil, dikembangkanlah kawasan Ancol dengan maksud agar pendatang dengan pesawat terbang akan "disambut" dengan keindahan panorama waterpark .Saat ini Binaria (cikal bakal Ancol) melebur dalam kawasan pantai rekreasi Ancol. Dan kawasan ini telah berkembang sangatlah pesat. Waterworld Ancol telah menjadi salah satu waterworld terbesar dunia, menjadikan potensi pariwisata semakin berkembang dan menghasilkan devisa yang signifikan.
Stadion Senayan
Pada mulanya banyak orang terkejut mendengar gagasan dibangunnya Stadion Senayan ini, termasuk Presiden (Uni Sovyet pada saat itu). Karena keadaan ekonomi saat itu yang masih terbelakang, gagasan "Stadion" seakan menjadi gagasan mercu suar. Namun terbukti dengan adanya Stadion Senayan yang sempat menjadi gelanggang pertama di dunia dengan konsep "temu gelang", masyarakat menjadi bergairah dalam berolahraga. Ketertinggalan akibat penjajahan tak selamanya harus diikuti dengan ide yang "murah". Stadion Senayan telah menjadi bukti tekad bangsa Indonesia dalam mengejar ketertinggalannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar