Kamis, 01 Juli 2010

THE FLOWING WATER MOSQUE


THE FLOWING WATER MOSQUE


penerapan elemen air pada rancangan


Latar Belakang


Komunitas menjadi salah satu permasalahan yang paling berperan dalam jangka lima puluh tahun mendatang. Keragaman sikap dari tiap individu dapat berpengaruh pada lingkungan sekitar, seperti pola hidup, rasa empati terhadap sekitar, dan kebiasaan lainnya.
Polusi adalah salah satu efek dari sikap tiap invidividu, kerap terjadi orang – orang mengeluh akan udara yang kian lama kian kotor, makin sedikitnya udara sehat di dunia ini. Belum lagi polusi suara akibat sikap manusia itu sendiri. Pola hidup manusia dalam mengkonsumsi makanan juga pasti akan berubah seiringnya perkembangan yang terjadi. Padahal mereka pun kerap juga menuntut udara yang bersih, makanan yang sehat, tidak ada kebisingan suara, dll.
Dalam upaya mengurangi atau bahkan menghilangkan dampak dari kebiasaan buruk manusia, yang berkaitan dengan polusi, sekaligus menciptakan sebuah pengaruh kebiasaan baru kepada masing-masing individu, maka dalam pandangan lima puluh tahun kedepan, kota Jogjakarta ini harus lebih mengatur tata letak kawasan sesuai fungsi – fungsinya sendiri.
Seperti halnya pengelompokkan satu blok kawasan industri, satu blok kawasan permukiman, satu blok kawasan pendidikan, satu blok kawasan komersial, dll. Ditengah polusi dunia yang kian meradang dalam keragaman perkembangan urban, kota Jogjakarta pun harus mempunyai paling tidak satu blok kawasan hijau.
Perencanaan sebuah area hijau yang tentu saja bukan hanya sekedar ruang terbuka hijau biasa, namun mampu menampung kegiatan peribadahan, agraris, perdagangan bahkan pariwisata  yaitu sebuah perencanaan kawasan wisata organic bebas polusi.

Dari hal – hal tersebut diatas maka peran Masjid menjadi hal utama yang diperlukan dalam mewadahi kesemua fungsi yang ada, sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat Jogjakarta. Dalam menyelaraskan makna masjid dengan kondisi letak site yang berada pada kawasan wisata organic bebas polusi dalam konteks kealamiannya ini adalah dengan menelaah arti dari Islam dengan alam itu sendiri.
Islam mengajak manusia untuk menggunakan kemampuan akalnya untuk berfikir dalam menyikapi berbagai kejadian alamiah dialam semesta. Apabila kita mengarahkan pandangan ke lingkungan di sekeliling kita, maka kita menemukan berbagai fenomena dan elemen – elemen alam yang bermanfaat yang membuktikan keberadaan sang Pencipta.
Elemen – elemen alam tentu saja sangat beragam dimuka bumi ini, seperti elemen cahaya, elemen udara, elemen air, elemen vegetasi, elemen view alam. Namun hanya elemen air yang akan mendasari dalam konsep perancangan masjid ini.


Masjid di Zaman Rasulullah SAW


Ketika  Rasulullah  SAW berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang  beliau  lakukan  adalah  membangun  masjid  kecil   yang berlantaikan  tanah,  dan beratapkan pelepah kurma. Dari sana beliau membangun  masjid  yang  besar,  membangun  dunia  ini,sehingga  kota tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi Madinah, (seperti namanya) yang arti harfiahnya adalah ‘tempat peradaban’,  atau  paling  tidak,  dari  tempat tersebut lahir benih peradaban baru umat manusia.
Masjid pertama  yang  dibangun  oleh  Rasulullah  SAW  adalah Masjid   Quba’,

kemudian  disusul  dengan  Masjid  Nabawi  di Madinah.

Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya  sehingga lahir  peranan  masjid yang  beraneka ragam. Sejarah mencatat tidak kurang dari sepuluh  peranan  yang  telah  diemban  oleh Masjid Nabawi, yaitu sebagai:
1. Tempat ibadah (shalat, zikir).
2. Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya).
3. Tempat pendidikan.
4. Tempat santunan sosial.
5. Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.
6. Tempat pengobatan para korban perang.
7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.
8. Aula dan tempat menerima tamu.
9. Tempat menawan tahanan, dan
10. Pusat penerangan atau pembelaan agama.


Masjid di Kawasan Wisata Organik


Berdasarkan tinjauan dari fungsi ruang masjid, masjid pada konteks ini akan menyadur atau mengembangkan sebagian fungsi ruang masjid pada zaman Rasullullah SAW. Seperti tempat sholat, ruang perpustakaan, dan ruang pertemuan dimana dalam masjid ini ruang pertemuan akan menjadi sebuah ruang convention hall.
Masjid ini berada pada kawasan wisata organik bebas polusi, sehingga masjid ini nantinya akan menjadi pusat segala kegiatan dari kawasan. Seperti tersedianya layanan Tourism Centre, yang memberikan pengunjung pembelajaran tanaman organik secara mikro dalam site kemudian dapat melakukan perjalanan wisata tanaman organik secara makro yang disediakan pula dengan transportasi bus bebas polusi, sehingga akan ada sebuah halte bus khusus pengunjung wisata ini. Dalam konteks tanaman organik, masjid pun menyediakan sebuah restaurant makanan organik.
Dikarenakan letak kawasan wisata organik kota Jogjakarta ini berada pada jalan Kaliurang km.19, maka masjid ini berusaha memanfaatkan potensi alam sekitar yang ada. Sebuah gunung Merapi merupakan view alam yang indah untuk dinikmati, sekaligus berusaha memberikan euphoria khusus dalam filosofi nilai - nilai alam dalam Islam. Sehingga masjid ini akan menyediakan sebuah gardu pandang gunung Merapi.
Dari keseluruhan fasilitas - fasilitas yang akan disediakan, maka masjid ini membutuhkan sebuah ruang kantor pengelola yang mengatur keseluruhan fasilitas dalam masjid ini. Sedangkan untuk menjaga, mengatur dan merawat masjid, masjid ini menyediakan sebuah tempat tinggal bagi takmir masjid.


Elemen Air dalam Arsitektur


Faktor air demikian mempengaruhi perancangan arsitektur dalam teori-teori tertentu seperti Waterfront Architecture, Aquascape, Water and Garden, dan lain-lain. Air telah menjadi sebuah elemen yang diakomodasi untuk mencapai suasana tertentu dalam arsitekur, terwujud dalam berbagai pengolahan, seperti :
1.) Bergelombang keras
2.) Tenang
3.) Beriak
4.) Berkabut
5.) Beku
6.) Mengalir
7.) Terjun dan sebagainya.
Dalam sejarah perkembangannya, arsitektur telah menggunakan air untuk berbagai kepentingan bagi penciptaan tujuan tertentu dari sebuah lingkungan binaan. Bangunan Taj Mahal di kota Agra India menggunakan air pada kolam didepannya untuk membangkitkan kesan terhadap kemegahan.

Falling Water House, karya arsitek Frank Lloyd  Wright mengunakan air dinamis dalam bentuk air terjun yang membuat bangunan tersebut berkesan melayang dengan dominasi material alam yang selaras pada lingkungan alam sekitarnya tetapi tetap memiliki geometri dan posisi yang kontras.

Pada dasarnya di dalam arsitektur, elemen air dapat digunakan sebagai :
- Tulang punggung (water as a spine)
Digunakan sebagai pengarah dan memperjelas sirkulasi ruang.
- Pusat kegiatan (water as a heart)
Digunakan sebagai daya tarik dan mempunyai orientasi yang jelas untuk berkumpul dan interaksi.
- Simbol (water as a symbol)
Digunakan sebagai simbol dari bentuk lain, seperti air mancur atau patung.
- Penghubung (water as a linkage)
Digunakan untuk mengalirkan air di antara bangunan dengan masa yang terpisah.
- Tenggaran (water as a vocal point)
Digunakan sebagai titik pandang yang terpenting dari lingkungannya, air menjadi bagian yang paling menonjol untuk menandai bagian utama di ruang tersebut.
- Pemersatu (water as a unity)
Digunakan sebagai penyatu bangunan/ruang di sekitarnya.


Elemen Air dalam Ayat Al - Qur’an


Berdasar dalam ayat yang dikutip Al – Qur’an dalam QS. Al-Baqarah 2:74,
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
Masjid ini mencoba menerapkan ayat tersebut dengan mengkolaborasikan dari tinjauan elemen air pada arsitektur, maka elemen air yang mengalir ( flowing ) ini dipilih untuk mengungkapkan bahwa batu yang keras sekalipun dapat terbelah karena aliran air, yang mengalir jatuh karena takut kepada Allah SWT. Sehingga memberikan makna kepada manusia bahwa janganlah berkeras hati karena sesungguhnya manusia harusnya takut dan tunduk kepada Allah SWT.


Analisa Site Secara Makro


  • Kondisi Eksisting

Site berada di Jl. Kaliurang KM 19 ( blok merah ), yang merupakan titik pusat aktifitas di daerah tersebut sebelum menuju kaliurang. Daerah sekitarnya terdapat pasar pakem, terminal pakem, rumah sakit jiwa, sekolah, area komersial, hunian penduduk, dan perkantoran. Melihat garis pandang secara kawasan, di daerah kaliurang terdapat beberapa blok - blok hunian penduduk ( warna kuning ) yang tersebar. Sebagian besar mata pencaharian penduduk sekitar adalah bertani, berkebun dan beternak. Karena itu, maka masih banyak terdapat lahan - lahan yang di fungsikan sebagai area persawahan.
  • Respon

Skenario perkembangan dalam perencanaan masjid ini menggunakan type ALL OF A PIECE URBAN DESIGN. Perencanaan di lakukan secara keseluruhan, dalam waktu yang bertahap, namun tetap terpaku pada guide line yang di buat dalam perencanaan awal.
Proyeksi yang di buat adalah menjadikan kawasan kaliurang sebagai kawasan organik ( pertanian, perkebunan, dan peternakan ). Masjid sebagai tempat transit para wisatawan menuju kawasan wisata organik. Orang - orang yang datang untuk berwisata di daerah hijau ini, nanti akan memarkir kendaraan mereka di parkir yang terdapat dalam site. Seluruh kegiatan kepariwisataan akan di mulai dari masjid ini. maka dari itu, masjid juga berfungsi sebagai tourism center. Dari halte awal di dalam site, mereka di haruskan naik bis bebas polusi yang mengantar mereka berkunjung ke daerah wisata organik sesuai dengan paket wisata yang mereka pilih.
Blok - blok hunian yang sudah ada tetap di pertahankan ( blok warna kuning ) karena di dekatkan dengan lahan pertanian mereka. Namun, seiring berkembangnya waktu, pertumbuhan pekerja semakin besar, sehingga memerlukan lahan hunian baru. Pada hunian baru ini lebih difokuskan dengan merencanakan rusunawa atau rusunami yang diletakkan pada daerah terjangkau ( blok warna ungu ).
  • Skema Sistem Transportasi Umum

Untuk mewujudkan sebuah kawasan organik, maka harus didukung dengan kondisi lingkungan yang baik, terutama bebas dari polusi. Dalam perencanaan ini membutuhkan penanganan khusus untuk masalah transportasi wisatawan dan petani – petani disana.
Transportasi Wisatawan ( Sistem Linear)
Wisatawan datang, parkir kendaraan di kantong parkir wisatawan, kemudian menuju halte pada yang terletak pada masjid untuk menunggu kendaraan bebas polusi ke kawasan wisata sesuai dengan paket wisata yang mereka ambil.
Transportasi Warga
Taraf hidup penduduk dalam lima puluh tahun mendatang sudah meningkat. sehingga mereka sudah memiliki transportasi pribadi yang bebas polusi. Minimal setiap KK memiliki motor bebas polusi sendiri – sendiri. Namun tetap ada transportasi umum bagi penduduk sana. beberapa warga yang masih memiliki kendaraan pribadi dengan polusi, akan memarkir kendaraan mereka di kantong parkir yang sudah di sediakan di selatan site (blok warna biru tua) dan di situ ada halte khusus penduduk.


Analisa Site Secara Mikro


Jl. Kaliurang km.19


  • Batas - Batas Site
Batas Utara

Batas Selatan

Batas Timur

Batas Barat

  • Potensi Site Terpilih
- Daerah agraris
- Aksesibilitas baik
- Komunitas muslim kuat
- Strategis
- Dekat dengan pusat pariwisata
  • Kendala Site Terpilih
Karena letaknya yang berada di antara dua jalan raya, lokasi tersebut berpotensi menerima kebisingan dari arah utara dan timur. Sehingga alternatif pada perancangan yang mungkin dapat digunakan adalah memfokuskan bangunan masjid pada tengah – tengah site.

Penataan Massa Bangunan


Penataan massa bangunan pada kasus Masjid ini di dasarkan pada prinsip orientasi arah kiblat yang condong 22 ۫ dari arah barat landasan utamanya. Namun demikian, ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan dalam penataan massa bangunan, yaitu antara lain :
Keadaan Site Terhadap Jalan
Massa bangunan masjid difokuskan pada pusat site dan menghadap pada jalan sebelah timur. Massa bangunan pendukungnya dirancang dapat merespon arah hadap jalan bagian utara sehingga tidak terkesan sebagai belakang bangunan.
Bangunan Terhadap Lingkungan Sekitar Site
Lingkungan di samping site adalah area permukiman penduduk, area pertanian dan area komersial. Hal ini menjadikan bahwa bangunan ini nantinya menjadi pusat dari segala aktivitas kawasan yang ada. Sekaligus membuat gerbang masuk kawasan wisata organik ini.

Konsep Zoning


ZONING PADA SITE
Berdasar hal - hal yang telah diulas sebelumnya bahwa masjid menjadi pusat di dalam site ini, maka letak masjid diletakkan pada tengah site. Dari acuan tersebut, fungsi massa lainnya mengikuti keselarasannya dari titik acuan masjid.

Konsep Lansekap

Konsep lansekap disini mencoba menggabungkan antara konsep zoning pada site dengan simbol islam, yaitu tulisan arab Allah.

Konsep Elemen Air

  • Konsep Elemen Air Pada lansekap
Elemen air mengalir ( flowing water ) ini meyerupai sungai buatan dimana akan ada penambahan elemen batu disekitarnya. Sungai buatan ini diletakkan mengelilingi bangunan masjid. Dan dapat dinikmati dari bangunan sekitar masjid, yaitu bangunan Convention hall dan bangunan Tourism Centre.
Penambahan elemen air terjun ( falling water ) diterapkan pada dinding yang terletak didepan ruang sholat mimbar imam, dimana tidak ada dinding yang menutupi pada bagian depan massa masjid ini, sehingga dari dalam masjid ini dapat menikmati air yang terjun dari dinding tersebut.

  • Konsep Elemen Air Pada Bangunan
Pada bangunan Gardu Pandang, flowing water disini terapkan pada selubung bangunan, dimana selubung bangunannya akan ada pipa yang mengalirkan air dari atas ke bawah. Dan air yang jatuh dibawah tersebut akan berfungsi sebagai irigasi prototype pertanian organik dalam site ini.
Pada bangunan lainnya elemen air hanya akan direspon melalui bentuk massanya.

Konsep Massa Bangunan

  • Masjid
Pada bangunan masjid berusaha tetap menampilkan image dome namun berusaha memvariasinya dengan menggunakan cangkang. Dalam hal elemen air, bentuk ini akan merespon air hujan, yang akan langsung jatuh ke sekeliling sungai buatan tersebut. Pada bagian tengah atap cangkang ini, menggunakan material kaca sehingga membuat efek orang yang ada didalamnya saat hujan, merasa seperti diselubungi air.

  • Convention hall & Tourism Centre - Resaturant - Office - Atm Centre
Dalam merespon kesinambungan bentuk masjid yang berupa cangkang, bangunan Convention hall dan Tourism Centre ini pun tetap menggunakan cangkang. Namun bentuk cangkangnya dibedakan dari masjid. Kedua bangunan ini diletakkan disamping kiri dan kanan bangunan masjid, yang seakan - akan mengapit masjid ini, bertujuan agar memberi fokus pada bangunan masjid.

Cangkang pada bangunan ini hanya terletak pada bagian tengahnya, sedangkan samping kiri dan kanannya menggunakan green roof. Untuk bangunan Tourism Centre, green roof disini dapat dinikmati sebagai area Restaurant outdoor ( area aktif ). Dan pada bangunan Convention Hall green roof hanya akan berfungsi sebagai respon dari global warming ( area pasif ), hanya pengurus site ini yang dapat mengakses green roof ini dalam hal perawatan.
  • Gardu Pandang
Masjid biasanya mempunyai minaret, namun pada Masjid ini Minaret akan digantikan dengan adanya sebuah Gardu Pandang, mengingat tinggi Minaret dan Gardu Pandang kurang lebih relatif sama. Gardu Pandang ini diletakkan pada bagian depan site, sehingga dapat berfungsi sebagai gate enterance ke dalam site. Maka bangunan Gardu Pandang ini mencoba mempertemukan aspek - aspek yang ada dengan mengingat konsep elemen air pada bangunan Gardu Pandang serta menyinambungkan dengan bentuk lengkung dari cangkang pada bangunan Masjid dan Convention Hall dan Tourism Centre.

FINAL DESIGN OF THE FLOWING WATER MOSQUE














1 komentar: